Kamis, 22 Desember 2016

Jual Topper Kue Tart Mickey And Friends

Topper Kue Ulang Tahun

Rp 60.000 Rp 61.000
Stock : Tersedia
Kode Produk : GG146
Dilihat : 1,891 kali
Kategori : Peralatan


Ini dia topper mainan mickey mouse and friends untuk mempercantik kue ulang tahun Anda. Cocok sekali untuk hiasan kue ulang tahun anak Anda yang suka dengan action figure mickey mouse, mini mouse, dan donald duck. Terbuat dari bahan karet keras, sehingga topping tart ini cukup lentur dan kuat, serta aman di pasang di atas kue ulang tahun.
Topper kue tart mickey and friends dijual per set isi 6 action figure. Silakan diorder ya ðŸ™‚

Boneka Frozen untuk Kue Ulang Tahun

boneka frozen

Rp 90.000 Rp 92.000
Stock : Tersedia
Kode Produk : GG140
Dilihat : 2,187 kali
Kategori : Peralatan


Ini dia satu set boneka frozen untuk hiasan kue ulang tahun. Bagi Anda yang sering membuat kue ulang tahun dan membutuhkan boneka dengan tema frozen tentunya boneka ini sangat tepat sekali untuk dijadikan topper kue ulang tahun Anda. Dengan detail yang bagus sehingga boneka frozen ini terlihat lebih rapi dan profesional.
Boneka frozen ini terbuat dari bahan karet keras, isi 6pcs/ set , ukuran : 9 – 11cm sehingga tidak mudah patah.

Jual Pulpen Atau Sepidol Untuk Menghias Kue

Pulpen Penghias Kue

Ini dia pulpen untuk menghias kue, dengan pulpen ini kini Anda tidak perlu repot lagi menulis ucapan selamat ulang tahun di cake ulang tahun Anda, Karena dengan pulpen ini tulisan akan terlihat indah dan rapi.
Cara kerja pulpen untuk menghias kue ini sama seperti jarum suntik. Terlebih dahulu, sedot cairan, sirup, cokelat cair, cream dll sebagai “tinta”. Kemudian Anda cukup mengeluarkan cairan tersebut perlahan-lahan di atas permukaan kue sesuai gambar yang dikehendaki dengan cara menekan bagian samping pulpan tersebut perlahan-lahan. Dan, taraa… kue buatan Anda pun akan terlihat indah. ðŸ™‚

Adapun spesifikasi pulpen atau sepidol untuk membuat hiasan kue ini adalah:
  • Ukuran: 13.5cm
  • Warna: Putih
  • Bahan: Karet silikon tebal
  • Berat: 100 gr
Produk dikirim dari Surabaya.

Manajemen Bakul Kue 'Versiku'

Semakin mengenal dunia baking dan kuliner, aku menjadi semakin tertarik untuk lebih mendalami dan belajar. Tak bisa di pungkiri, kemajuan teknologi telah sangat membantuku untuk belajar dan terus belajar. Melalui internet aku banyak belajar dan mendapatkan ilmu tentang baking. Facebook, blog, situs kuliner dan milis adalah teman akrabku sehari-hari. Satu hal yang bisa aku jadikan pelajaran adalah, tidak selamanya dunia maya berdampak negatif, selama kita bisa memnfaatkan teknologi tersebut untuk kebaikan.

Pada awal aku mulai menjadi bakul kue, seringkali aku hanya mendapatkan laba yang sangat minim. Hal itu disebabkan karena aku masih sangat pemula di dunia bakul kue dan belum mengerti tentang manajemen bakul kue yang baik. Untuk menentukan harga jual, aku hanya menghitung biaya produksi untuk pembelian bahan baku, sedangkan biaya lain-lain untuk operasional seperti, listrik, gas dan tenaga kerja seringkali tidak aku hitung. Setelah banyak berteman dengan bakulers, akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai memahami bagaimana manajemen menjadi bakul kue, mulai dari menghitung biaya produksi, mengatur waktu kerja, persiapan bahan, ide dekor, dll, sehingga aku mulai mendapatkan hasil yang cukup lumayan.

Dari hasil pengalamanku yang masih sangat minim dan pemula banget di dunia bakul kue rumahan, aku akan mencoba untuk sedikit berbagi tentang manajemen bakul kue menurut versiku,hehehehe…….. semoga membantu dan bermanfaat untuk teman-teman yang ingin menjadi bakul kue. Untuk memulai menjadi bakul kue, ada beberapa hal yang harus kita pahami, antara lain:

1. Produk
Untuk menjadi bakul kue, kita harus menentukan terlebih dahulu produk apa yang akan kita jual. Apakah kita hanya fokus pada satu produk saja seperti brownies, klapertart atau kita menjual aneka macam produk seperti cake, snack, cup cake atau cookies. Kita harus bisa membuat produk-produk tersebut dengan kualitas dan rasa yang sesuai dengan selera pasar atau dapat memuaskan customer.

Ada banyak cara untuk bisa belajar membuat cake, snack, cup cake atau cookies. Kita bisa belajar secara otodidak dengan cara mencoba sendiri resep-resep yang sudah teruji. Resep-resep tersebut bisa kita dapat dari tabloid atau majalah kuliner, buku resep, situs web, dll. Selain itu, kita juga bisa mengikuti kelas-kelas kursus yang diadakan oleh pakar kuliner, tapi tentu saja kita harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk bisa mengikuti kursus.

Kalau aku pribadi, sejauh ini hanya belajar secara otodidak alias belum pernah mengikuti kursus. Sebenarnya pengen banget bisa mengikuti kursus untuk lebih menambah ilmu bakingku, terutama kursus yang di pandu oleh bu Fatmah Bahalwan. Semoga suatu saat impianku bisa terwujud untuk bisa bertemu dengan bu Fatmah Bahalwan, amien……….

2. Menentukan harga jual
Setelah kita menentukan produk apa yang akan kita jual, selanjutnya kita harus menentukan harga jual dari produk-produk tersebut. Sebelumnya, terlebih dahulu kita harus menghitung biaya produksi yang dikeluarkan. Biaya produksi tersebut terdiri dari biaya bahan baku dan juga operasional seperti, biaya gas, listrik, tenaga kerja, termasuk juga di dalamnya biaya packing/kemasan. Kalo biaya produksi sudah di hitung, selanjutnya kita bisa menentukan berapa profit atau laba yang kita inginkan, sehingga kita bisa menentukan harga jual untuk produk yang kita buat.

Untuk bakul kue rumahan, sebaiknya kita juga menentukan minimal order untuk produk yang kita buat. Karena bakul kue rumahan rata-rata membuat produk setelah ada orderan, jadi dengan menentukan minimal order, memudahkan kita untuk menentukan berapa resep yang akan kita pakai sehingga kita bisa mengetahui berapa banyak bahan baku yang kita butuhkan. Misalnya untuk snack seperti kue sus, 1 resep menghasilkan 25pcs, maka kita bisa tentukan minimal order 25pcs atau untuk brownies 1 resep menghasilkan 2 loyang uk 30x10cm, maka kita bisa tentukan minimal order 2 loyang untuk brownies.

3. Lokasi atau tempat usaha
Penentuan lokasi atau tempat usaha juga merupakan faktor penting dalam memulai usaha bakul kue. Menurutku ada 2 jenis lokasi yang bisa dipilih yaitu,

• Membuka bakery/toko kue
Jika kita memilih untuk membuka bakery / toko kue, maka kita harus bisa memilih lokasi yang tepat serta sesuai dengan pangsa pasar yang akan kita bidik. Yang paling penting adalah, lokasi tersebut diutamakan berada di pinggir jalan dan berada di pusat-pusat keramaian sehingga memudahkan customer yang akan membeli produk kita.
Kita bisa membuka toko kue di mall, sekitar kampus, sekolah ataupun pasar, karena tempat-tempat tersebut merupakan pusat keramaian yang sering dikunjungi banyak orang.

Dengan membuka toko kue, maka kita juga harus menghitung biaya sewa tempat, pajak dan gaji penjaga toko tiap bulannya. Biaya tersebut juga nantinya akan termasuk ke dalam biaya produksi sehingga ikut menentukan harga jual. Selain itu, kita juga harus menyediakan produk yang akan kita jual atau dengan kata lain, cake, snack, cup cake atau cookies yang kita jual harus ready stok untuk display.

• Media online
Dengan adanya kemajuan teknologi, kita tidak lagi mengalami kesulitan untuk memulai suatu usaha, terutama untuk bakul kue pemula dengan modal minim, kita bisa memanfaatkan teknologi dengan menjadi bakul kue online, seperti yang selama ini aku lakukan. Meskipun hanya melalui media online, menurutku bisa lebih efektif dan efisien karena kita bisa menjangkau pasar yang jauh lebih luas dengan biaya operasional yang minim, karena kita dapat menghemat biaya sewa toko dan gaji penjaga toko yang harus dikeluarkan. Media online dapat menjangkau calon customer tidak hanya dalam satu wilayah, tapi juga melintasi kota, pulau bahkan negara, dengan hanya bermodal komputer dan fasilitas internet yang mudah di jangkau untuk pemula sekalipun.

4. Promosi
Apabila ketiga hal tersebut sudah tepenuhi, selanjutnya diperlukan adanya promosi untuk memperkenalkan produk kita kepada calon customer. Promosi dapat dilakukan dengan banyak cara, seperti pemberian tester kue, brosur, pasang iklan di media cetak atau radio, membuat blog n facebook, pameran, dll. Salah satu contoh promosi yang efektif adalah dengan pemberian tester, karena kita bisa melakukan tes selera pasar dan mengetahui respon dari calon customer apakah produk kita sudah layak jual atau belum. Jika customer puas dengan produk yang kita bikin, mereka bisa membantu kita dengan promosi dari mulut ke mulut atau dalam bahasa jawa disebut ‘getok tular’, ini merupakan salah satu bentuk promosi yang efektif.

Kalo pengalamanku pribadi, promosi yang selama ini aku lakukan adalah dengan pemberian tester dengan membuatkan cake ultah untuk orang-orang terdekat dan membuat snack untuk acara-acara keluarga. Aku juga berpromosi melalui facebook dan blog. Tiap kali membuat cake atau snack, aku tidak lupa selalu memotret hasil bakingku dan upload di facebook dan blog, meskipun hanya menggunakan kamera hp (karena belum punya kamera digital or DSLR, hehehhe……). Alhamdulillah, cara promosi yang selama ini aku lakukan terbukti efektif dan berbuah order


Apa yang aku tuliskan di atas hanyalah sharing sependek pengetahuanku sebagai bakul kue pemula. Mohon maaf kalau ada yang tidak sependapat dengan tulisanku dan semoga dapat membantu dan menambah sedikit wawasan untuk teman-teman yang sudah membaca. keep spirit n happy baking....^_*

Chocolate is Totally Better

Hari Minggu ngumpul sama temen emang gak puas kalo gak nge dessert. Niatan awalnya gamau ke tempet ini tapi karna satu dan lain hal, akhirnya kita ngedessert disini.

Tempetnya simple, nuansa putih dengan lampu sedikit kuning yang bikin kesan warm, apalagi dekornya udah dekor Christmas. Homey abis. Kita langsung ngincer tempet duduk deket jendela, apalagi mejanya putih.

Kita pesen beberapa cake yang literally made from chocolate. Aku pesen Baby Blackforest yang terlihat so cute. Displaynya itu si cake tertutup toples kaca yang bikin si cake terlihat super cantik. Ga cuma enak di mata, blackforestnya enak sekaleh. Cake nya lembut dan blend sempurna sama coklatnya. Rumnya nendang banget. Totally worth it dan enak banget. WAJIB COBA.

Harganya 42,000 untuk Baby Blackforest.

Foto review Better Chocolate Than Never oleh Christine Lie #FoodCraverID 1
Baby Blackforest

The Harvest Patissier & Chocolatier

coklat cheese cake
Uh…lalala, apakah kamu pecinta cheese cake? mmm, kalo jawabannya iya, berarti sama dong kayak aku,hehe… Foto cake diatas adalah cheese cake dari The Harvest Patissier & Chocolatier cabang Bandung. Selain di Bandung ada di Jakarta sama Surabaya. More info http://www.harvestcakes.com/home/
Kebetulan pacar adikku ultah dan adikku menjadikan beberapa slice cheese cake sebagai kue ultahnya,hehe… dan diriku juga kecipratan dapet satu slice. Udah lama banget pengen nyobain cheese cake dari The Harvest yang banyak diomongin orang-orang karena kuenya yang enak-enak.
Dan para pemirsa setelah aku coba kuenya ternyata memang enak! Rasanya creamy banget, lembut, rasa coklat sama kejunya sama-sama dominan. Namun agak giung kalau orang Sunda bilang. Giung itu kira-kira artinya rasa yang berlebihan untuk suatu makanan. Kalo yang gak suka cheese cake disarankan untuk tidak memakannya tapi buat penggila cheese cake, yang satu ini pantas dicoba.
Oia aku juga nyoba cheese cake rasa tiramisunya. Kalau kata aku sih lebih enak yang rasa tiramisunya…
Dan untuk soal harga memang diatas dari Cheese cake buatan Breadtalk dan Cizz. Kisaran harga per slicenya yaitu Rp. 20.000 tapi tergantung jenis kuenya juga sih. Kalau mau beli satu loyang secara utuh mending liat-liat dulu aja di sitenya biar kue yang dibeli sesuai dengan keinginan. Karena harga per loyangnya dihargai Rp.100.000 ke atas. Tertarik buat nyoba?🙂

Blueprint

Cetak biru

Cetak biru modern galiung Perancis La Belle.
Cetak biru (Inggris: blueprint) adalah kerangka kerja terperinci (arsitektur) sebagai landasan dalam pembuatan kebijakan yang meliputi penetapan tujuan dan sasaran, penyusunan strategi, pelaksanaan program dan fokus kegiatan serta langkah-langkah atau implementasi yang harus dilaksanakan oleh setiap unit di lingkungan kerja.
Ditemukan pada abad ke-19, proses ini memungkinkan reproduksi cepat dan akurat dari dokumen yang digunakan dalam bangunan dan industri. Ciri-ciri proses cetak-biru adalah garis berwarna terang pada latar belakang biru, sebuah negatif dari aslinya. Proses ini tidak dapat menghasilkan warna atau bayangan abu-abu.

Blueprint

A blueprint is a reproduction of a technical drawing, documenting an architecture or an engineering design, using a contact print process on light-sensitive sheets. Introduced in the 19th century, the process allowed rapid and accurate reproduction of documents used in construction and industry. The blue-print process was characterized by light colored lines on a blue background, a negative of the original. The process was unable to reproduce color or shades of grey.
Various base materials have been used for blueprints. Paper was a common choice; for more durable prints linen was sometimes used, but with time, the linen prints would shrink slightly. To combat this problem, printing on imitation vellum and, later, polyester film (Mylar) was implemented.
The process has been largely displaced by the diazo whiteprint process and by large-format xerographic photocopiers, so reproduced drawings are usually called "prints" or just "drawings".
The term blueprint is also used less formally to refer to any floor plan (and even more informally, any type of plan).
The blueprint processes

In 1861 Alphonse Louis Poitevin, a French chemist, found that ferro-gallate in gum is light sensitive. Light turns this to an insoluble permanent blue. A coating of this chemical on a paper or other base may be used to reproduce an image from a translucentdocument.

The ferro-gallate is coated onto a paper from aqueous solution and dried. The coating is yellow. In darkness it is stable for up to three days. It is clamped under glass and a light transmitting document in a daylight exposure frame, which is similar to a picture frame. The frame is put out into daylight requiring a minute or two under a bright sun or about ten times this under an overcast sky. Where ultra-violet light is transmitted the coating converts to a stable blue or black dye. The image can be seen forming, when a strong image is seen the frame is brought indoors and the unconverted coating, under the original image, is washed away. The paper is then dried.

The result is a copy of the original image with the clear background area rendered dark blue and the image reproduced as a white line. The image is stable. The contact printing process has the advantage that no large-field optical system is required. A further advantage is that the reproduced document will have the same scale as the original. Another quality is that the dark blue background makes it difficult to add new information to the print (such as recording as-built changes); a blueprint cannot easily be altered—depending on the situation, this can be either a strength or a drawback. Since the paper is soaked in liquid during processing, a minor change of scale can occur, and the paper can also become brittle. Engineering drawings often are marked to remind users not to rely on the scale of reproductions.

Other blueprint processes based on photosensitive ferric compounds have been used. The best known is probably a process using ammonium ferric citrate and potassium ferricyanide.  In this procedure a distinctly blue compound is formed and the process is also known as cyanotype. The paper is impregnated with a solution of ammonium ferric citrate and dried. When the paper is illuminated a photoreaction turns the trivalent (ferric) iron into divalent (ferrous) iron. The image is then developed using a solution of potassium ferricyanide forming insoluble ferroferricyanide (Turnbell's blue identical to Prussian blue) with the divalent iron. Excess ammonium ferric citrate and potassium ferricyanide are then washed away.

This is a simple process for the reproduction of any light transmitting document. Engineers and architects drew their designs on cartridge paper; these were then traced on totracing paper using Indian ink for reproduction whenever needed.

Introduction of the blueprint process eliminated the expense of photolithographic reproduction or of hand-tracing of original drawings. By the latter 1890s in American architectural offices, a blueprint was one-tenth the cost of a hand-traced reproduction. The blueprint process is still used for special artistic and photographic effects, on paper and fabrics.
Blueprints replaced by whiteprints

Traditional blueprints have largely been replaced by more modern, less expensive printing methods and digital displays. In the early 1940s, cyanotype blueprint began to be supplanted by diazo prints, also known as whiteprints, which have blue lines on a white background; thus these drawings are also called blue-lines or bluelines.  Other comparable dye-based prints are known as blacklines.

Diazo prints remain in use in some applications but in many cases have been replaced by xerographic print processes similar to standard copy machine technology using toner on bond paper. More recently, designs created using computer-aided design techniques may be transferred as a digital file directly to a computer printer or plotter; in some applications paper is avoided altogether and work and analysis is done directly from digital displays. Another common modern method of copying is the use of large-format scanners. These digitize an image which can then be printed with a large-format plotter.

As display technologies have advanced, the use of mobile devices, like the iPad and Android-powered tablets, for viewing plans has increased significantly among modern construction firms.[10] Software from companies like PlanGrid, Bluebeam, Fieldwire, Okitoo, and others specialize in viewing these high-resolution PDF files and sharing notes easily between tablet users.

The traditional term "blueprint" has continued to be used informally (usually by non-expert commentators) to refer to each type of image. Practicing engineers, architects and drafters just call them "drawings" or "prints"